Minggu, 06 November 2011

Biografi Bob Sadino


Biografi Bob Sadino

Bob Sadino bernama asli Bambang Mustari Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Bob berwirausaha karena "kepepet", selepas SMA tahun 1953, ia bekerja di Unilever kemudian masuk ke Fakultas Hukum UI karena terbawa oleh teman-temannya selama beberapa bulan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
             Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, Sri Mulyani, temannya  menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Sri memberikan 50 ekor ayam ras kepada Bob agar Bob bisa menternakkan ayam-ayam itu. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Berkat kerja keras Bob, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Tidak berhenti sampai disana, Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Karena kegigihan dan kesenagannya untuk mencoba hal yang baru, dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah yaitu memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia. Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta
Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Pandangan antara Bodoh dan Pintar
1.      Terlalu Banyak Ide 
Orang "pintar" biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang "bodoh" mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2.      Miskin Keberanian untuk memulai 
Orang "bodoh"biasanya lebih berani dibanding orang "pintar", kenapa ? Karena orang "bodoh"sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang "pintar"telalu banyak pertimbangan.
3.      Telalu Pandai Menganalisis 
Sebagian besar orang "pintar"sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang "bodoh"tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4.      Ingin Cepat Sukses 
Orang"Pintar" merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang "bodoh" merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5.      Tidak Berani Mimpi Besar 
Orang "Pintar" berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang "bodoh"tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6.      Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi 
Orang "Pintar"menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang "Bodoh" berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7.      Berpikir Negatif Sebelum Memulai 
Orang "Pintar" yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang "bodoh" tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8.      Maunya Dikerjakan Sendiri 
Orang "Pintar"berpikir "aku pasti bisa mengerjakan semuanya", sedangkan orang "bodoh" menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang        lain.
9.      Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan 
Orang "Pintar" menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang "bodoh" berpikir simple, "yang penting produknya terjual".
10.  Tidak Fokus 
Orang "Pintar" sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang "bodoh"tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11.  Tidak Peduli Konsumen 
Orang "Pintar" sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang"bodoh"?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12.   Abaikan Kualitas 
Orang "bodoh" kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang "pintar" sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13.   Tidak Tuntas 
Orang "Pintar" dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang "bodoh"mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14.  Tidak Tahu Pioritas 
Orang "Pintar" sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang "Bodoh"? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15.  Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas 
Banyak orang "Bodoh" yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang "Pintar" malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16.  Mencampur adukan Keuangan 
Seorang "pintar" sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17.  Mudah Menyerah 
Orang "Pintar" merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang "Bodoh" seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18.  Melupakan Tuhan 
Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan "TUHAN". Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19.  Melupakan Keluarga 
Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga.


20.  Berperilaku Buruk 
Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri.

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama : Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Selasa, 11 Oktober 2011

CERPEN : Ranting Cahaya



Ranting Cahaya
Di saat-saat tertentu teringatmu selalu satu nasihat ibu. Yang menyuruhmu bergegas bangun sebelum atap dijenguk mentari, membuka jendela, lantas mengucap “Alhamdulillah”.
“Maka hari pun tak akan lagi sulit dilalui, Nak. Sebab pagi adalah gerbang hari dan bersyukur adalah penjaga hati,” begitulah kerap ia berkata penuh kelembutan setiap kali menemukanmu bangun dengan wajah cemberut. ”Maka semoga setiap langkahmu selalu diridhai Allah. Tak henti sepanjang hari. Bukankah menyenangkan jika begitu?” “Tapi itu dulu, Bu, tidak kini. Aku telah bangun sangat pagi tapi hari tetap saja sulit dijalani. Apakah nasihatmu itu telah kadaluarsa? Sebab tak ada yang mudah di sini, Bu! Tak satu pun.” Ingin kau mengadu begitu tapi tahu sungguh tak mungkin. Di sini kau hanya hidup sendiri. Tanpa keluarga, kerabat, dan sahabat. Seorang bujang dua puluh tujuh tahun yang sedang mencoba mengabdi setulus hati. Di tengah hutan rimba, rawa dan padang savana. Di pedalaman Papua.
Dua tahun lalu, sungai, gunung, hutan, dan laut telah membelenggu bebasmu sebagai pemuda kota. Menyempitkan langkah. Membuatmu sangat tergantung pada satu-satunya motor butut dinas yang sepasang rodanya tak pernah lepas dari selimut lumpur. Bukan itu saja. Jumlah lampunya pun tak lagi sempurna. Rantainya longgar. Mesinnya selalu berderak. Kaca spion tinggal sebelah. Sungguh sebuah motor yang benar-benar butut. Kendati begitu motor itulah segalanya. Teman sekaligus rekan kerjamu. Bersamanya kau jalani hari-hari sebagai guru di sebuah sekolah di pelosok Papua. Namun bukan guru yang hanya mengajar olahraga—seperti gelar dan keahlianmu—tapi semua pelajaran, sebab memang begitulah keadaannya. Di sekolahmu tak ada kepala sekolah, pustakawan, apalagi bagian administrasi. Di sekolah itu hanya ada guru dan murid. Kau dan anak-anak itu. Di tempat tinggalmu pun tak jauh beda. Hanya ada dua tetangga paling dekat. Pak Emus dan Pak Moses yang rumahnya berjarak 300 dan 700 meter. Kau dan mereka terpisah hutan dan ladang. Di saat seperti itulah si motor butut menjadi teman sejati. Menemanimu melewati hari-hari yang berat dan sepi.
Pun, bersama motormu kau hadapi liarnya alam Papua. Memulai rutinitas pagi dengan meniti jalan setapak yang hancur berlubang selama tiga jam. Selanjutnya menyeberangi sungai berpenghuni buaya selama dua jam. Lalu ditambah beberapa menit perjalanan darat lagi sebelum akhirnya tiba di sekolah. Lantas apakah murid-muridmu sudah menunggu di sana? Sungguh kau tidak pernah berharap. Sebab kau hanyalah seorang guru yang tak diharap. Seorang pendatang tanpa pengalaman mengajar. Guru muda yang kini sedang dilanda dilema. Apakah akan terus mengabdi atau menyerah kalah seperti yang lain—kepala sekolah yang minta pindah, para pegawai yang tak pernah datang, atau beberapa guru yang lebih sering berkunjung ke bar daripada ke sekolah.1
Kau tahu bukan salah anak-anak itu hingga lebih suka bermain daripada belajar. Lebih betah menjelajah hutan daripada duduk kaku di kelas. Alam memang lebih menarik dibanding buku. Berburu lebih seru dari berhitung. Menenteng panah lebih gagah ketimbang memegang pena. Tapi kau pun tahu kalau tenaga tanpa otak sama saja dengan keledai. Pandai memanah tapi tak bisa baca-tulis, mau jadi apa nanti? “Sa mo jadi pemburu seperti sa pu pace!”2 teriak murid laki-laki.  “Sa mo jadi maitua seperti sa pu mace!”3 teriak murid perempuan. Duh, lugunya mereka. Cita-cita yang sangat sederhana. Tapi sayang, tanpa masa depan indah. Kau tahu itu.
Kau sadar mereka masih terlalu belia untuk mengerti sebuah rahasia besar. Bahwa beban hidup akan bertambah seiring usia yang menua. Masa kanak-kanak dan dewasa terpisah jurang tanggung jawab yang begitu lebar. Menganga. Siap memanah siapa pun yang kalah. Dia yang tak kuat berjuang melawan dunia akan mati dalam sengsara. Dan itulah yang tampaknya akan diwarisi anak-anak itu dari orang tua mereka. Kemiskinan yang mengakar. Keterpurukan orang-orang Komen4. “Tidak!” Kau mengucap lantang tanpa sadar. Menggeleng kepala mencoba mengusir letih hatimu sesaat. Letih yang mengendap dan baru bergolak akhir-akhir ini; karena keterasingan, pun merasa sia-sia. Dua tahun mengajar tapi kau tak melihat ada perubahan. Masih banyak yang sulit mengeja, apalagi membaca. Mengenal angka dalam bahasa daerah, bukan bahasa Indonesia. Ketika diajar menghafal, mereka selalu bersemangat. Kau suka itu. Apalagi saat kau tanya, “Sudah hafal semua?”, dan mereka jawab, “Sudah!”, tapi ternyata hanya untuk hari itu. Sebab jika esok ditanya lagi, semua serentak berkata lupa. Hafalan kemarin sepertinya hanya untuk kemarin.
Maka setiap pelajaran pun harus selalu kau ulangi. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Sungguh memakan waktu. Menguras tenaga. Menguji sabarmu hingga mencapai jenuh. Wajarlah jika kau pun mulai sering berpikir untuk kembali. Mengepak barang, berangkat pulang, meninggalkan semua di belakang. Tapi setiap kali itu pula kau teringat mereka. Murid-muridmu yang lugu. Yang bermata bening tanpa dosa. Yang tak malu berlari telanjang bulat di tengah lebat hujan. Yang bertanya ingin tahu saat pertama kali melihatmu mengerjakan shalat, “Pak Guru, apa yang Bapak Guru bikin tadi? Berdiri diam macam pohon, trus tunduk pegang lutut, trus berdiri lagi, trus duduk, trus berdiri lagi. Tidak capek ka?”. Dan selanjutnya kau masih ingat betapa mereka beramai-ramai mencoba meniru rangakaian gerak shalatmu. Duhai, anak-anak yang selalu riang, bisikmu penuh rasa sayang. Di tengah gelimun dingin pagi, kau tiba-tiba merasa hangat.
--==--
Angin membawa aroma hawa yang mengental. Merampas segar dari pagi sekaligus memberitahu kalau sungai tak lagi jauh. Ah, kau hela napas panjang. Lega tubuhmu meregang ingin segera lepas dari siksa. Diguncang jalan berbatu selama tiga jam sungguh membuatmu agak mual. Sarapan keladi rebus tadi serasa kembali dari perut. Naik-turun tak menentu. Belum lagi selangkang yang sakit. Leher yang kaku. Kepala seperti mau lepas. Maka dengan menahan gigil, motor pun kau pacu laju. Melesat. Jauh meninggalkan gigi satu. Dan di menit kelima, kau pun tiba di sebuah tepian. Di sana, seorang tukang perahu langganan sudah menunggu. Seorang bapak tua dengan dayung di tangan. “Selamat pagi. Mo pigi mengajar, Bapak?” sapanya ramah, selalu begitu. “Selamat pagi juga,” jawabmu santun, pun selalu begitu. Tapi kali ini ada tambahan, “Iya, mau mengajar. Dua hari lagi ada ujian. Hari ini anak-anak kelas enam mau saya bawa ke kabupaten sepulang sekolah. Ujiannya di sana.” Lalu dalam kepalamu terangkai sebuah perjalanan panjang. Perjalanan rutin tahunan yang harus kau tempuh nanti. Dari pedalaman di hulu ke kabupaten di hilir. Dua hari penuh mendayung tanpa henti. Pagi sampai malam, hingga pagi lagi di hari yang lain. Terus begitu selama dua hari. Bergantian kau dan murid-murid bertukar posisi. Ada yang mendayung, ada yang menumpang. Ada yang tidur, ada yang berjaga. Begitulah beban yang kau warisi. Beban seorang guru kecil di pedalaman terpencil. Pekerjaan yang sangat penting tapi sayang terkucil. Tak ada yang peduli. Bahkan kau mulai ragu apakah ada yang masih ingat ada sekolah di sini. Sekali lagi kau mendesah panjang. Ragumu timbul. Mampukah aku menjadi guru yang baik? Yang bisa memberi cahaya untuk anak-anak yang telah lama dibelenggu gelap itu? Tanpa ilmu pengetahuan. Tanpa keyakinan yang benar. Sementara aku merasa bagai sepotong ranting yang tak mampu memahat karang. Hanya menggurat tanah. Itu pun sebatas permukaan. Mampukah aku menyentuh mereka? Penuh pikiran, kau naiki perahu bersama motor bututmu. Sempat tersentak saat terasa sedikit oleng.
“Bapak, pelan-pelan saja.”
          Dan untuk yang kesekian kali, kau serahkan diri dan motor bututmu di kelincahan tangan si tukang perahu. Membiarkannya memacu laju saat rintangan tak ada. Menahan napas gugup saat mengira sebatang kayu adalah buaya. Namun selebihnya sama seperti biasa. Selama hujan tak turun, sungai setenang permukaan air kolam. Membawa perahu ke hulu yang dituju dengan mulus. Sementara itu, kau pun terseret arus kenangan masa lalu. Sekeping yang tak mudah dilupa. Dua tahun lalu.“Kenapa harus jauh-jauh, Nak?” bukankah kau bisa minta penempatan di sekolah sekitar daerah ini saja? Atau kalau pun jauh, selama ada kerabat yang tinggal di situ, tak mengapa. Ibu ijinkan. Tapi di Papua, ada siapa di sana?” Tak kau lupa siang yang cerah tapi kelabu itu. Saat surat tugas kau tunggu akhirnya tiba, tapi membawa kabar yang mengganggu. Mengubur senyum bahagia Ibu menjadi khawatir tak berujung. Kau, si bungsu dan anak laki-laki satu-satunya, akan pergi jauh untuk pertama kali. Meninggalkan dirinya. Menjauh dari Jawa. Terdampar di Papua. “Yah, namanya guru baru, Bu. Calon PNS pula… tentunya tugas pertama berat. Itu kan wajar,” jelasmu mencoba menenangkan ibu. Pun, hatimu sendiri yang agak kecewa. Sebab tidak begitu mimpimu. Bukan itu! Mengajar di tempat yang jauh dan menjadi orang asing? Bagaimana jika hanya kau sendiri Muslim? Bagaimana jika mereka makan babi? Bagaimana jika begini dan begitu? Sungguh kau tak tahu mau bagaimana lagi. Padahal kau hanya ingin seperti Umar yang mengajar di SMP favorit. Atau Nadir yang dikontrak sekolah Islam swasta standar internasional. Tapi setelah dua tahun menganggur tanpa hasil, kau sadar tak pantas memilih-milih lagi. Seorang guru harusnya semata ingin berbakti. Bukan memburu materi. Apalagi rezeki adalah takdir. Banyak-sedikit, Allah maha adil. Kau pun putuskan jalani nasib, apapun itu. Menerima penugasan di tengah perkampungan suku asli yang masih menyembah alam dan murni kepala suku.“Su (sudah) sampai, Bapak. Su boleh turun.” Suara serak itu berdering dekat di telingamu. Suara lelah si tukang perahu tua. Kau terkesiap. Kenanganmu menguap. “Eh-oh. Ya, ya. Terima kasih, Pak.” Lantas dengan tergesa kau pun menuntun motormu turun, membayar ongkos perahu, lalu melangkah pergi setelah mengucap terima kasih. Sekali lagi motor kembali kau pacu. Kali ini, sekolah sudah dekat.
***
Ruang 5×6 meter itu bukan aula. Walau hanya ada papan tulis, tanpa bangku dan meja, tapi itu sebuah kelas darurat. Tepatnya, kelas untuk 40 murid. Dari kelas 1 hingga 6 SD. Semuanya jadi satu. Belajar bersama di atas lantai papan berdebu. Berbagi papan tulis dan guru yang semula ada tiga. Sebelum kemudian satu per satu mundur menyerah. “Terlalu berat,” keluh Pak Rijal, guru asal Sumatera. “Tidak betah,” kata Pak Edo, guru dari Nusa Tenggara. Hingga sisa satu. Kau. “Kasihan anak-anak kalau semua guru pergi. Kasihan juga anak-anak kalau terus dibiarkan bodoh,” ucapmu saat melepas Pak Edo. Enam bulan lalu. “Tapi bukankah mereka lebih suka jika tidak belajar?” “Semua anak memang begitu, dimana pun. Makanya guru ada sebagai pemandu.” “Tapi bukankah orangtua mereka juga lebih suka jika tidak ada guru? Anak-anak bisa membantu di ladang dan berburu. Bagi mereka, itu lebih baik. Apalagi tak ada orang baru. Orang baru kan hanya mereka anggap musuh. Lupakah kau saat anak panah itu sudah diarahkan ke kepalamu?”
          Kau tahu, Edo mencoba mengingatkan kejadian tahun ajaran lalu. Ketika tak seorang pun anak kelas 6 lulus. Bagaimana bisa lulus kalau tak ada yang bisa mengerjakan soal berhitung. “Tidak tahu, Bapak Guru,” begitu kata mereka kompak. Tenang saja. Murid-muridmu itu lebih sering bolos daripada masuk kelas. Makin besar mereka, makin susah diatur lakunya. Saat itu kau merasa betul-betul gagal. Seorang guru yang tak becus mengajar. Dan sungguh pantas dihajar, mungkin itulah yang ada di kepala para orangtua murid saat mengancammu dengan busur panah yang siap ditarik sembari meminta anak mereka diluluskan.
          Kini, kau merasa di ambang peristiwa yang sama. Lusa, hari ujian. Tapi entah mengapa kau tak yakin anak-anak kelas 6 sudah siap. “Semoga firasat itu salah,” harapmu setelah berdoa. Namun yang tampak di depan matamu justru sebaliknya. Tak terlihat satu pun murid paling tua di halaman sekolah. Tidak juga di depan kelas darurat. Pun di depan puing bangunan sekolah lama yang dibiarkan rusak sejak gempa setahun lalu. Yang ada hanya murid kelas lebih muda. Anak-anak kecil berperut buncit dan berkulit legam. Yang langsung menguntit langkahmu masuk ke kelas dan duduk manis begitu tiba di dalam. Pelajaran harus dimulai. Kau pun menyibukkan diri menulis soal dan menerangkan, sambil sesekali mencuri pandang ke arah pintu. Berharap ada murid kelas 6 yang muncul. Sayang tak ada. Kau kecewa. “Ada yang tahu kemana Autei, Esau, Ndiken, dan anak kelas 6 lain?” tanyamu akhirnya. Dan sebuah jawab yang tak diharap terdengar mengambang. “Dong pi hutan, Bapak Guru. Ikut dong pu pace.5  Berburu babi.” “Masya Allah!” Kejut itu tak bisa kau tahan. Inilah yang kau takuti.
          Selama dua tahun kau tak hanya mengajar ilmu pengetahuan umum, tapi juga agama pada murid-muridmu dan penduduk lain. Yang kau sisipkan di sela-sela pelajaran sekolah, pembicaraan ringan atau diskusi suatu masalah. Yang kau contohkan lewat tutur kata dan sikap yang selalu terjaga dari seorang pengikut Rasulullah. Samua itu kau lakukan karena tak tega melihat kehidupan mereka. Terpasung gelap. Tersesat di jalan yang salah.
          Sedikit demi sedikit kau mencoba mengenalkan mereka mana yang benar dan mana yang salah. Benar karena membawa kebaikan. Salah karena mendatangkan keburukan. Dengan ilmu agama alakadarnya, kau pun mulai mengajar mereka tentang Islam. Meski kau tahu dirimu bukan seorang pendakwah, tapi keinginanmu begitu kuat untuk menyadarkan mereka; bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya. Namun kejadian hari ini membuatmu semakin merasa tak berguna. Kata-katamu tak ada yang didengar. Sia-sia. Mereka tetap berburu babi meski berkali-kali kau katakan betapa binatang itu bukanlah jenis makanan yang mendatangkan kebaikan, sebaliknya keburukan karena penyebab penyakit. Dan demi babi pula, anak-anak itu tidak ikut ujian.
          “Ternyata aku benar-benar hanya sebatang ranting. Tak bisa menggurat dalam, apalagi hingga meninggalkan bekas,” bisikmu lelah lalu meneruskan pelajaran. Kau ingin hari ini cepat berakhir.
***
          Baru saja mesin motor hendak kau nyalakan ketika terdengar sapa itu. “Pak Guru, jang pigi dulu! Nanti tong tara jadi ujian.”6Betul itu. Jang Bapak marah kitorang ka. Tong cuma bantu tong pu pace berburu rusa di hutan.”7 Dan kata-kata itulah yang seketika menghentikan niatmu pulangmu. Memaksa kepalamu menoleh ke asal suara. Di sana, terpisah beberapa langkah, Esau dari anak kelas 6 lain tengah berdiri menunggumu dengan tatapan takut-takut. Panah dan busur tergeletak di kaki mereka, tak jauh dari seekor rusa yang terikat mati. Rupanya dari hutan mereka langsung ke sekolah.“Kalian masih ingat ada ujian lusa?” tanyamu tak percaya sambil berjalan mendekat. Motor telah kau parkir kembali di tempatnya. “Ingat, Pak Guru!” “Kalau begitu kenapa kalian malah pergi berburu?” “Kitong cuma mau bantu-bantu sebentar sebelum pergi.” “Lalu kenapa rusa yang kalian buru? Bukankah biasanya babi?” Anak-anak kelas 6 terdiam sebelum kemudian ada satu yang menjawab. “Kitong ingat kata Bapak Guru. Makan babi bisa bikin penyakit. Karena itu tidak boleh. Jadi kitong bilang ke kitong punya pace (bapak) kalau berburu rusa saja. Biar yang makan tidak sakit.” Deg! Mendengar itu serasa ada hangat menjalari hatimu. Ternyata usahamu tak sepenuhnya sia-sia. Masih ada kata-katamu yang didengar. Masih ada harapan untuk dikejar. Cahaya yang semula hampir redup itu pun kau rasakan terang kembali. Dan semakin terang ketika terdengar Esau berkata, “Pak Guru, matahari lewat di atas kepala sudah. Tidak berdoa dulu ka? Kitong sudah siapkan air dan sapu-sapu kelas untuk Bapak Guru pakai berdoa.” Subhanallah. Tak kuasa kau menahan haru mendengar kalimat itu. Seorang anak suku asli Papua mengingatkanmu untuk shalat. Duhai. Adakah hati mereka akan tergerak memeluk Islam suatu saat nanti?  “Semoga hidayah-Nya bisa segera sampai padamu, anak-anakku. Semoga…”
         
 Dan di suatu waktu nanti barulah kau menyadari, bahwa meski dirimu ranting tetapi bukan sekadar ranting biasa. Melainkan ranting cahaya yang dengan kelenturannya mampu menyelinap di antara dedaunan, mengisi setiap lubang, merasuki sudut dan celah, bahkan memecah tirai pekat malam, untuk kemudian mengusir gelap. Hingga datanglah terang. “Maka bergegaslah engkau bangun sebelum atap dijenguk mentari, membuka jendela, lantas mengucap ‘Alhamdulillah’. Semoga setiap langkahmu selalu diridhai Allah, tak henti sepanjang hari.”***

 sUMBER : http://http://www.reynaz.co.cc/2010/02/ranting-cahaya.html





Keterangan :
  1. Sebuah fakta yang terjadi di Merauke, Papua, akibat beratnya beban sebagai guru di sana. Hal tersebut menyebabkan muncul lelucon di tengah masyarakat, “Kitorang di sini butuh guru, bukan burung!” Guru pun kurang dihargai lagi. (sumber: Kompas)
  2. Saya mau jadi pemburu seperti bapak saya.
  3. Saya mau jadi istri seperti ibu saya.
  4. Sebutan untuk penduduk asli Papua.
  5. Mereka pergi ke hutan, Bapak Guru. Ikut bapak mereka.
  6. Pak Guru, jangan pergi dulu. Nanti kami tidak jadi ujian.
  7. Betul itu. Tolonglah bapak jangan marahi kami. Kami hanya membantu bapak kami berburu rusa di hutan.


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls